BANJARNEGARA - MELIMPAHNYA hasil panen salak pondoh ketika panen raya membuat harga salak tersebut anjlok. Di tingkat petani harga salak saat panen raya hanya pada kisaran Rp 1.000 per kilogramnya. Tak pelak hal tersebut membuat petani salak merana. Sebab, ongkos petik, angkut dan lainnya tidak sebanding dengan biaya perawatan, pemupukan dan lainnya.
Tidak sedikit petani salak yang kini banting stir dengan membabat tanaman salaknya diganti tanaman kayu keras macam albasia. Ada juga yang mengganti dengan tanaman buah lain seperti buah naga, durian dan lainnya. ‘’Berangkat dari kondisi tersebut, saya berpikir untuk mengolah salak yang melimpah saat panen raya supaya nilai ekonomisnya tinggi.
Harapannya dapat membantu petani dengan membeli hasil panen mereka dengan harga di atas harga pasar,’’ ungkap Chafid Rohman (24), warga RT 2 RW 1 Desa Dawuhan, Kecamatan Madukara, Banjanegara ini. Ia pun kemudian surfing di dunia maya mencari informasi mengenai olahan buah salak. Khusus di Banjarnegara, salak sudah dimanfaatkan untuk bahan baku sirup salak, jenang salak dan keripik salak.
400 Cup
‘’Belum ada yang mengolahnya menjadi manisan salak sehingga pilihan saya jatuh pada manisan salak. Kemudian saya mulai mencoba membuatnya sekitar dua bulan yang lalu. Awalnya memang kurang berhasil namun saya tidak menyerah. Kini saya sudah mulai menemukan resep yang pas,’’ ujarnya didampingi Rizki Ulinuha (19), adik kandungnya yang turut membantu usaha tersebut.
Dalam sehari, rata-rata mereka dapat memproduksi 400 cup plastik manisan salak. Olahan salak itu dikemas dalam tiga jenis kemasan. Yakni isi empat cup, enam cup dan sembilan cup dengan harga jual yang sangat terjangkau.
‘’Saya berpikir bila kita dapat mengolah salak seperti mengolah carica, maka potensi lokal ini akan terangkat dan makin dikenal luas. Dampaknya, petani salak tentu sedikit banyak akan terbantu karena hasil panenya akan mudah terserap,’’ paparnya.
Rintisan usaha tersebut selain bertujuan meningkatkan nilai ekonomi salak yang melimpah saat panen raya, juga bertujuan membuka lapangan pekerjaan. Harapannya, bila usaha berkembang maka setidaknya akan memberdayakan warga setempat. ‘’Kini kami sudah meminta bantuan tetangga untuk mengupas dan memotong daging buah salak.
Adapun untuk memasak atau mengolah hingga pengemasan masih kami lakukan sendiri. Sebab alat juga masih terbatas dan produksi belum banyak,’’ ungkapnya. Ke depan ia ingin terus mengembangkan usaha tersebut sehingga ada orang khusus yang menangani produksi, sedangkan ia dapat berkonsentrasi melakukan pengembangan produk, branding dan marketing.
Saat ini olahan salak dengan merek Rizki Salaka itu baru dapat memenuhi pasar lokal Banjarnegara. Namun sudah mulai merambah ke Purbalingga dan Semarang melalui pola pemasaran online. Di Banjarnegara manisan salak itu bisa didapatkan di kios oleh-oleh kidul alunalun. (14)
Sumber: suaramerdeka.com
ADS HERE !!!